Showing posts with label college. Show all posts
Showing posts with label college. Show all posts

Thursday, 4 September 2014

September: Awal

Hai!
Selamat datang di bulan September.
Bulan di mana orang-orang menyetel lagu Wake Me Up When September Ends dari Greenday.
Bulan di mana musim kemarau hendak berganti ke musim penghujan.
Bulan di mana banyak memulai hal baru. Bagi saya, terutama.

Ya. Semester baru, suasana baru, kesibukan baru, hingga ide-ide baru.
Tentu saja masih banyak hal yang lama,
yang tidak tergusur dengan kebaruan.

Hmm. Lama dan baru.
Kira-kira, apa yang akan terjadi ketika yang lama dan baru disatukan?
Agak membingungkan, eh.

Perubahan? Bisa jadi.
Tapi, bukankah perubahan bisa terjadi kapan saja?
Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.
Tidak ada situasi yang benar-benar sama persis.

Namun,
sepertinya legal saja jika saya menandai bulan September sebagai awal.
Ya, saya ingin menandai perubahan saya.
Lalu, kita lihat saja hasilnya beberapa saat yang akan datang.

Memulai hal baru.
Menyenangkan sekaligus menegangkan.

Semoga ini awal yang baik.

Monday, 19 May 2014

Dari Piringan Hitam Hingga Koleksi Surat Kabar

Senin, 12 Mei 2014

06.00
Lapangan tengah FISIPOL UGM, atau yang biasa disebut Sansiro, mulai ramai dengan celotehan dan canda tawa kami, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2013. Seiring berjalannya menit demi menit, celotehan tersebut semakin ramai karena jumlah mahasiswa yang berdatangan semakin bertambah. Kira-kira pukul 07.00 kami pun mulai beranjak dari Sansiro dan berjalan ke bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan hari ini, yakni Lokananta dan Monumen Pers di Surakarta. Sekitar 125 anak, dengan mengenakan jas almamater UGM, berjalan dari gedung FISIPOL menuju ke parkiran timur Grha Sabha Pramana (GSP). Di situ sudah ada 3 bus yang menunggu, kami pun segera masuk ke dalam bus dan mencari posisi yang strategis untuk duduk. Setelah menunggu beberapa saat, pukul 07.30 bus mulai berjalan membawa kami ke tempat tujuan.

09.30
Tibalah kami di tempat tujuan pertama, yakni Lokananta. Kami segera masuk ke ruangan dengan arsitektur dinding yang unik; terdapat balok setengah lingkaran, balok yang berlubang-lubang, dan yang berbentuk seperti tirai, semuanya melekat di dinding. Setelah bertanya, kami pun tahu bahwa belok dengan berbagai macam bentuk tersebut dibuat tidak hanya untuk unsur estetika, melainkan juga memiliki fungsi untuk mengolah suara dan sirkulasi udara dalam ruangan tersebut. Di ruangan tersebut kami diberi informasi seputar seluk beluk Lokananta sebagai perusahaan rekaman musik pertama di Indonesia.

Lokananta berdiri pada tahun 1956 tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1956. Nama Lokananta sendiri memiliki arti “Gamelan di Kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh”. Sejak berdirinya, tugas utama Lokananta adalah memproduksi dan menduplikasi piringan hitam dengan tujuan untuk mengabadikan musik-musik tradisional. Selain itu, Lokananta juga berkontribusi dalam menyuplai siaran untuk Radio Republik Indonesia (RRI) dan menyediakan transkrip berita antar RRI seluruh Indonesia. Pada tahun 1960, Lokananta dikomersialkan dan meresmikan status sebagai Perusahaan Negara. Hingga pada akhirnya, pada tahun 2004 Lokananta resmi menjadi cabang Perum Percetakan Negara Republik Indonesia dengan empat kegiatan utama, yaitu recording, music studio, broadcasting, serta percetakan dan penerbitan. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, master rekaman yang semula berupa piringan hitam mulai melalui proses modernisasi dan disimpan dalam bentuk soft file.

Hingga saat ini, Lokananta menyimpan ribuan rekaman mulai dari musik-musik daerah dan lagu-lagu lama hingga pidato-pidato kenegaraan. Contoh rekaman-rekaman tersebut adalah lagu Indonesia Raya, Rasa Sayange, dan pidato Proklamasi dari Bung Karno. Puluhan penyanyi legendaris juga telah melakukan proses recording di tempat ini, antara lain Gesang, Waldjinah, dan Titiek Puspa. Sedangkan untuk artis-artis terbaru yang melakukan rekaman di Lokananta yakni Glenn Fredly, Shaggy Dog, White Shoes and The Couple Company, dan Efek Rumah Kaca.

Setelah puas bertanya jawab seputar sejarah dan tujuan Lokananta, kami dibagi menjadi tiga kelompok besar dan diajak untuk berkeliling tempat ini. Kelompok saya mendapat tujuan pertama yaitu ruang penyimpanan master rekaman. Di ruang ini terdapat ribuan cassette dan piringan hitam dengan berbagai judul. Dapat juga kami jumpai berbagai poster band dan penyanyi legendaris yang melakukan rekaman di Lokananta. Ada satu hal yang sangat menarik dari ruangan ini yaitu pendingin ruangan (air conditioner/ AC) yang memiliki bentuk sangat unik. Satu kesan yang dapat ditangkap ketika melihat AC tersebut: klasik. Hebatnya, meski sudah terlihat sangat “lawas” dan rapuh, pendingin ruangan ini masih dapat berfungsi dengan baik.

Beralih ke ruangan selanjutnya yang berisik banyak alat-alat rekaman di masa lalu. Koleksi benda-benda yang digunakan untuk mendukung proses rekaman, seperti speaker control, audio control, dan pemutar piringan hitam. Semua benda-benda tersebut masih tampak menawan meski telah berusia puluhan tahun. Kemudian, ruangan ketiga dan terakhir yang kami kunjungi yaitu studio rekaman. Di sini kami mendapat banyak pengetahuan seputar dunia recording. Pemandu kami dengan ramah menjelaskan berbagai seluk beluk proses rekaman yang belum kami ketahui sebelumnya. Tak lupa kami mengambil beberapa foto sepanjang tur singkat kami mengelilingi Lokananta.

Merasa puas dan cukup lelah menjelajah seluruh sudut bangunan ini, kami pun berkumpul di depan pintu utama dan mempersiapkan diri untuk berkunjung ke tempat tujuan selanjutnya yaitu Monumen Pers Nasional.


14.00
Setelah menyantap makan siang di RM Taman Sari, rombongan kami bergerak ke Monumen Pers Nasional yang letaknya tidak terlalu jauh. Bangunan ini tidak memiliki lahan parkir yang cukup luas sehingga bus yang membawa kami harus berhenti di pinggir jalan raya dan menyebabkan jalan menjadi padat. Dengan ditemani hujan yang datang rintik-rintik kami pun masuk ke dalam bangunan utama Monumen Pers Nasional. Baru beberapa langkah memasuki gedung ini, di kanan dan kiri sudah terdapat berbagai macam benda-benda bersejarah seputar dunia pers, sebut saja patung torso para perintis pers nasional dan berbagai pindaian surat kabar lama yang bersejarah. Kami pun dikumpulkan untuk duduk di tengah ruangan dan memperhatikan video mengenai sejarah singkat Monumen Pers Nasional dan koleksi apa saja yang terdapat di dalamnya. Setelah melihat video dokumenter tersebut, kami menjadi takjub karena begitu banyaknya koleksi benda-benda bersejarah yang terdapat di sini. Tak sabar menunggu terlalu lama, kami bergegas bangkit untuk berkeliling.

Di sudut kanan dan kiri gedung tersebut, terdapat diorama yang menceritakan sejarah pers Indonesia. Diorama tersebut dibagi menjadi enam kotak besar dengan konten sebagai berikut: 
  1. Diorama pertama menggambarkan penyampaian berita pada zaman prasejarah hingga kerajaan di dunia.
  2. Diorama kedua menggambarkan pers pada zaman penjajahan Belanda.
  3. Diorama ketiga menggambarkan pers pada zaman penjajahan Jepang. Pada saat itu pers dalam tekanan Jepang dan ditunjukkan dengan adanya penjara sebagai visualisasi ketatnya pengawasan terhadap pers.
  4.  Diorama keempat menggambarkan perkembangan pers di Indonesia pada awal kemerdekaan, beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia dikumandangkan.
  5.  Diorama kelima menggambarkan perkembangan pers di masa Orde Baru. Pemerintah sangat membatasi ruang gerak pers dengan mewajibkan memiliki Surat Izin Terbit (SIT) dan pers dapat dibredel sewaktu-waktu.
  6.  Diorama keenam menggambarkan perkembangan pers pada masa reformasi dan menjunjung tinggi kebebasan. Pers di Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa. Banyak media baru muncul baik cetak maupun elektronik.
Masuk ke ruangan di samping jejeran diorama, kami disuguhi ruangan yang menyediakan fasilitas komputer dan akses internet secara gratis. Di luar ruangan tersebut kami dapat menjumpai berbagai benda-benda bersejarah milik tokoh-tokoh pers. Sebut saja mesin ketik Bakrie Soeraatmadja, kamera Fuad Muhammad Syarifuddin, dan plat cetakan perdana Koran Kedaulatan Rakyat.

Lebih melihat ke luar, kami pun masuk ke gedung pendamping yang terletak di samping gedung utama. Gedung ini terdiri dari empat lantai dan memiliki rooftop. Di lantai 2 dan 3, terdapat puluhan hingga ratusan ribu koleksi surat kabar dan majalah dengan berbagai judul. Terdapat ruangan yang digunakan untuk mendigitalisasi koran-koran lama tersebut ke dalam bentuk soft file sehingga mudah diakses dari perangkat komputer. Gedung ini juga dilengkapi ruangan khusus yang menyediakan fasilitas e-paper bagi pembaca setia surat kabar.

Sangat banyak koleksi sejarah pers yang dapat kami jumpai dalam Monumen Pers Nasional. Setelah merasa puas berkeliling, sekitar pukul 16.30 rombongan kami masuk ke dalam bus untuk pulang ke Yogyakarta. Dengan hati gembira serta tambahan ilmu dan pengetahuan yang sangat berguna, rasa lelah kami terbayar sudah. Terima kasih untuk pelajaran luar biasa yang kami dapat dari perjalanan tersebut. Semoga situs-situs yang menyimpan banyak sejarah tetap digemari dan dilestarikan oleh masyarakat, karena dari sejarahlah kita belajar. Hidup musik dan pers nasional!

- Diposkan sebagai tugas mata kuliah Sejarah Komunikasi dan Media Indonesia (Ilmu Komunikasi B)-

Wednesday, 20 November 2013

Review: Politik Santun dalam Kartun #bridgingcourse

Judul Buku                : Politik Santun dalam Kartun
Kartunis                    : Muhammad Mice Misrad
Penulis Teks              : Ita Sembiring

Fenomena kehidupan politik Indonesia merupakan sasaran empuk untuk dibicarakan di berbagai media yang menampung aspirasi kritis masyarakat. Mice, yang karya kartunnya telah sering kita jumpai pada berbagai surat kabar Indonesia, mencoba menggambarkan potret “kehidupan” pemerintahan lewat buku kumpulan kartun Politik Santun dalam Kartun. Dikolaborasikan dengan teks yang dituliskan oleh Ita Sembiring, buku ini mampu membuat kita tertawa, meringis, hingga mengerutkan kening saat membacanya.

Menyajikan isu-isu hangat seputar rumah tangga pemerintah, buku ini mengangkat berita yang banyak dimuat di harian Rakyat Indonesia. Kumpulan kartun yang dihadirkan adalah gambaran sederhana untuk mengamati kasus dan sepak terjang para penguasa, sebut saja kasus Century yang melibatkan Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan kasus suap Wisma Atlet yang menjadikan M. Nazaruddin sebagai tumbal. Tak hanya kasus seputar anggota kabinet yang diparodikan, kartun ini juga  cukup berani mengkritisi cara kepemimpinan orang nomer satu di Indonesia. Sindiran yang terdengar satir dan menggelikan berhasil menyampaikan dengan baik kekurangan-kekurangan selama dua masa jabatan Presiden SBY.


Mice adalah kartunis kawakan yang mampu menghadirkan manis getir kehidupan dalam gambarnya. Meskipun terlihat apa adanya, inilah lukisan kepedulian terhadap kelangsungan kehidupan politik di Indonesia yang patut untuk direnungkan. Segala kekecewaan dan luapan emosi terhadap negeri ini berhasil dihadirkan dalam kemasan yang mengundang tawa. Untuk kesekian kalinya, Mice membuat kita kembali berpikir: sudah sejauh manakah negeri ini terpuruk?

Tuesday, 19 November 2013

Review: Tanah Surga... Katanya #bridgingcourse

Judul Film                  : Tanah Surga... Katanya
Sutradara                   : Erwin Novianto
Produser                    : Deddy Mizwar
Pemeran                  : Osa Aji Santoso, Ringgo Agus Rahman, Fuad Idris, Ence Bagus, Astri Nurdin, Tissa Biani

Dengan latar belakang lokasi di Kalimantan Barat, perbatasan Indonesia dengan Malaysia, film ini menyuguhkan pada penonton tentang gambaran tipisnya rasa nasionalisme masyarakat Indonesia di perbatasan. Pengaruh dari Malaysia yang sangat kuat dan kurangnya perhatian dari pusat menyebabkan sebagian besar penduduknya mengalami krisis identitas kenusantaraan.

Dibuka dengan adegan Hasyim (Fuad Idris) yang tengah menceritakan kepada kedua cucunya, Salman (Osa Aji Santoso) dan Salina (Tissa Biani), tentang masa perjuangan Indonesia melawan penjajah dan bagaimana ia mempertahankan wilayah ibu pertiwi dari perebutan kekuasaan yang digencarkan oleh negara tetangga, Malaysia. Hasyim dikisahkan sebagai seorang mantan pejuang yang dengan gagah berani membela tanah air pada masanya. Rasa hormat dan cinta akan negeri ini ditanamkan dengan kuat oleh Hasyim kepada kedua cucunya, yang berhasil mewujudkan melalui prestasi di sekolah. Ironisnya, putra Hasyim, Haris (Ence Bagus), dengan mudah meninggalkan kebangsaannya dan beralih menjadi warga negara Malaysia dengan alasan kemudahan materi dan ikatan pernikahan dengan seorang wanita asal Negeri Jiran tersebut. Haris telah membujuk sang ayah dan kedua buah hatinya untuk mengikuti jejaknya dengan iming-iming kesejahteraan. Namun, Hasyim bersikeras untuk tetap setia pada tanah air dan diikuti dengan Salman yang tak ingin pergi meninggalkan kakeknya seorang diri.

Konflik utama bukan tentang kegigihan Hasyim untuk tetap bertahan di negeri ini, melainkan tentang masyarakat di desa tersebut yang tak lagi mengenal identitas bangsanya. Anwar (Ringgo Agus Rahman), seorang dokter muda dari Bandung yang menggantikan dinas di tempat terpencil itu, merasa heran ketika masyarakat di sana tak lagi menggunakan mata uang rupiah, akan tetapi yang digunakan adalah ringgit yang merupakan mata uang Malaysia. Keheranan tersebut bertambah ketika ia menggantikan Astuti (Astri Nurdin), guru sekolah dasar kelas 3 yang merangkap kelas 4, untuk mengajar kedua kelas tersebut. Saat Anwar memberi komando pada para murid untuk menyanyikan lagu nasional, bukan Indonesia Raya yang berkumandang, melainkan Kolam Susu ciptaan Koes Plus yang dinyanyikan dengan fasih oleh para murid.

Film ini juga diwarnai kisah perjuangan Salman mencari uang sebesar 400 ringgit untuk biaya pengobatan sang kakek yang harus dibawa ke rumah sakit di kota agar penyakitnya tidak kunjung memburuk. Salman yang terpaksa mencari pekerjaan sampingan, menyeberang ke Serawak (Malaysia) dan melihat banyak fenomena bagaimana hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia dianggap rendah di tempat tersebut. Misalnya saja, ketika kesakralan Sang Saka Merah Putih dijatuhkan dengan penggunaan bendera tersebut sebagai kain pembungkus dagangan.

Hal pokok yang ingin diungkapkan dalam film ini adalah keindahan, kekayaan, serta kejayaan Indonesia yang tak sampai hingga ke daerah pelosok dan hanya dapat dinikmati oleh penduduk pusat saja. Kehadiran Deddy Mizwar yang berperan sebagai pejabat pemerintah pusat, juga menambah kesatiran dalam film ini ketika mendengar puisi yang dibacakan oleh Salman tentang sindiran bahwa apa yang diungkapkan dengan “Indonesia Tanah Surga” hanyalah istilah kosong yang tak sempat dicicipi penduduk perbatasan. Ditambah lagi, perang dingin antara Indonesia dengan Malaysia yang sudah berlangsung sejak lama diwujudkan melalui bentuk nonverbal dan banyak tergambar pada latar belakang. Kepolosan Salman dalam melanjutkan sang kakek mempertahankan nasionalisme juga disuguhkan dalam beberapa adegan yang mengetuk pintu hati, seperti saat ia menukarkan sarung terbaiknya dengan bendera merah putih dan membawanya berlari berkibar sepanjang perbatasan Serawak-Indonesia.

Ditengah dunia perfilman Indonesia yang melulu tentang kegaiban dan romantisme, Deddy Mizwar dan Erwin Novianto menghadirkan sebuah karya yang cukup berhasil membuat penonton kembali menengok ke diri sendiri serta merasa malu dan kecil jika dibandingkan semangat Salman akan cinta tanah air. Meskipun sedikit kehilangan fokus, pesan yang ingin diungkapkan dapat tergambar dengan elegan melalui adegan-adegan yang satir dan permainan akting oleh para pemeran yang dapat menggugah sisi emosional penonton. Dengan tagline “Apapun yang terjadi, jangan kehilangan cinta pada negeri ini.”, film Tanah Surga... Katanya patut mendapat pujian untuk kesuksesannya menyajikan tontonan yang berkualitas.


Thursday, 10 October 2013

Kampusku Istanaku #bridgingcourse

Gedung Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) termasuk salah satu bangunan yang mudah dicari di Universitas Gadjah Mada (UGM). Letaknya yang sangat dekat dengan gedung pusat yaitu Gedung Rektorat dan Grha Sabha Pramana (GSP) memungkinkan bagi siapa saja untuk mencari Kampus FISIPOL dengan mudah. Sebenarnya, Kampus FISIPOL terdiri atas dua bangunan yaitu Kampus Bulaksumur dan Sekip. Tetapi sebagian besar jurusan di FISIPOL, termasuk Ilmu Komunikasi, sudah menempati bangunan baru yaitu Kampus Bulaksumur yang memiliki dua bagian utama yaitu Gedung BA dan Gedung BG, dan inilah yang akan saya bahas lebih lengkap dalam uraian di bawah ini.

Sedangkan Gedung BA adalah bangunan baru yang cukup luas dan megah. Di tengah-tengah Gedung BA, terdapat halaman yang ditumbuhi banyak pohon sehingga membuatnya terasa sejuk, tempat ini biasa disebut Sansiro. Pada bagian barat Sansiro dapat kita jumpai hall sangat luas yang biasa disebut Selasar Barat, di tempat inilah mahasiswa FISIPOL biasa berkumpul untuk mengadakan rapat atau sekedar nongkrong bersama. Sedangkan di sebelah selatan Sansiro terdapat Kantin FISIPOL yang teduh, sayangnya saat ini kantin tersebut sedang vakum dan belum dapat digunakan. Diatas kantin dapat kita jumpai Sekretariat Dewan Mahasiswa (DEMA) yang merupakan markas bagi berbagai UKMF di FISIPOL. Untuk bagian utara Sansiro adalah kelas-kelas yang biasa digunakan untuk proses perkuliahan. Gedung yang terdiri dari 5 lantai ini dilengkapi dengan fasilitas WiFi untuk memudahkan para mahasiswa mengakses informasi. Selain itu, basement yang luas digunakan sebagai parkiran motor hingga para penghuni Kampus FISIPOL tidak bingung lagi di mana harus memarkirkan motornya pada tempat yang aman dan teduh.

Pada saat peresmian Gedung BG, mulanya digunakan untuk kelas kuliah dua fakultas yaitu Fakultas Hukum dan FISIPOL. Gedung BG berada di sebelah tenggara Gedung BA, bersebelahan dengan Mushola FISIPOL. Pada lantai dasar Gedung BG terdapat sebuah hall yang biasanya disebut Selasar Timur, tempat ini dilengkapi dengan banyak kursi dan meja yang membuat mahasiswa menjadi nyaman untuk mengerjakan tugas di tempat tersebut. Walaupun Gedung BG tidaklah merupakan bangunan baru seperti halnya Gedung BA, namun tempat ini cukup nyaman bila digunakan untuk proses perkuliahan. Selain itu, di Gedung BG masih menggunakan kursi dan meja yang terbuat dari kayu sehingga lebih luas dan fleksibel.

Atmosfer di Gedung BA dan Gedung BG sangatlah menyenangkan karena tempat yang teduh dilengkapi dengan banyak pohon, ditambah lagi tingkah laku para mahasiswa yang menghiasi gedung tersebut. Di tempat-tempat seperti Selasar Barat dan Selasar Timur akan banyak kita jumpai mahasiswa-mahasiswa yang berkumpul dalam kelompok besar maupun kecil sedang melakukan diskusi ataupun hanya obrolan ringan dan candaan bersama, hal ini menambah keceriaan tersendiri di Kampus FISIPOL. Dari apa yang saya deskripsikan diatas, dapat disimpulkan bahwa Kampus FISIPOL adalah tempat yang sangat mendukung untuk proses perkuliahan. Itulah yang menyebabkan saya sangat menyukai kampus ini dan betah berlama-lama berada disini.

Tuesday, 8 October 2013

Kotaku yang Kucinta #bridgingcourse

Semarang adalah kota di mana saya tinggal selama 17 tahun terakhir ini sebelum akhirnya saya memutuskan untuk menuntut ilmu di kota pelajar. Tempat yang sekarang menjadi ibukota Provinsi Jawa Tengah ini mulanya berawal dari suatu daerah bernama Pragota (yang sekarang menjadi Bergota) yang pada abad ke-15 diduduki oleh utusan dari Kerajaan Demak yaitu Kyai Ageng Pandanaran. Dari yang mulanya menyebarkan agama Islam, Kyai Ageng Pandanaran mulai memajukan daerah tersebut hingga akhirnya menjadi subur dan bermunculan pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan nama daerah itu menjadi Semarang. Pada masa kekuasaan Ki Ageng Pandanaran, putra dari Kyai Ageng Pandanaran, daerah Semarang semakin berkembang hingga akhirnya disahkan sebagai sebuah Kabupaten oleh Sultan Hadiwijaya pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Dan sampai sekarang, tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari jadi Kota Semarang.


Selain sejarah yang unik, Kota Semarang juga memiliki banyak ciri khas terutama dalam bidang pariwisata dan kuliner. Untuk tempat wisata, kawasan Kota Lama, Lawang Sewu, dan Sam Poo Kong adalah tujuan yang wajib dikunjungi. Tempat-tempat tersebut memiliki nilai sejarah yang menarik sekaligus nilai estetika yang khas sehingga kerap kali digunakan sebagai objek pemotretan. Untuk kuliner, menu khas yang menjadi juara untuk dibawa sebagai buah tangan adalah bandeng presto. Di sepanjang Jalan Pandanaran dapat kita lihat berbagai pusat oleh-oleh yang menyediakan bandeng duri lunak ini. Selain itu, jajanan yang khas dan favorit adalah lunpia yaitu makanan ringan yang terbuat dari rebung yang digulung menggunakan kulit crispy seperti pangsit. Karena sangat terkenal akan lunpianya, bahkan jajanan tersebut menjadi trademark Kota Semarang hingga dijuluki sebagai Kota Lunpia. Selain Kota Lunpia, julukan lain bagi Semarang adalah Kota ATLAS yang merupakan akronim dari Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat.

Letaknya yang ada di dekat laut membuat Kota Semarang memiliki pelabuhan di tepi pantai dan daerah dataran rendah yang cukup luas. Daerah dataran rendah berada di utara Kota Semarang seluas 4 kilometer dari tepi pantai, sedangkan sisanya di selatan adalah dataran yang agak tinggi. Namun, keberadaan dataran rendah yang luas inilah menyebabkan kota ini acap kali dilanda banjir atau luapan air laut (rob) di berbagai daerah tertentu. Selain itu, kondisinya yang dekat dengan laut membuat berbagai daerah di Kota Semarang memiliki suhu udara yang tinggi dan kering terutama di siang hari.

Dalam bidang pembangunan infrastruktur, Kota Semarang mungkin masih kalah jika disandingkan dengan ibukota provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa seperti Bandung dan Surabaya, namun dari segi keamanan dan kenyamanan sebagai tempat tinggal, Kota Semarang masih menjadi unggulan. Kemacetan yang terjadi tidak separah kota-kota besar lainnya dan hanya terjadi pada jam-jam tertentu seperti waktu berangkat atau pulang kantor. Selain itu, mudahnya akses transportasi juga merupakan faktor mengapa Kota Semarang tetap menjadi pilihan.

Perasaan nyaman yang saya dapatkan selama hidup di Kota Semarang membuat saya tidak mudah melupakan kota ini. Walau memiliki beberapa kekurangan, kota ini tetap menjadi kebanggaan karena kelebihan-kelebihan lainnya yang dapat menutupi kekurangan tersebut. Kota Semarang dapat menjadi lebih baik lagi jika kita sebagai warganya senantiasa menjaga dan merawat terutama dalam bidang kebersihan dan pengolahan sampah agar tidak menghambat saluran pembuangan air dan nantinya menyebabkan rob. Selain itu, pembangunan untuk perbaikan infrastruktur harus terus dilakukan agar Kota Semarang dapat terus berkembang menjadi lebih baik dan sesuai dengan julukannya yaitu kota yang aman, tertib, lancar, asri, dan sehat.

Tuesday, 24 September 2013

Komunikasi dari Kata Hati #bridgingcourse

Saat diberi tugas untuk membuat entry yang menceritakan alasan mengapa masuk Komunikasi, saya pikir itu adalah hal yang mudah, namun ternyata saya salah. Menuliskan alasan tentang suatu keinginan yang sudah terkabul ternyata tidak semudah yang dikira. Tetapi kemudian saya tersadar bahwa yang perlu dilakukan hanyalah menceritakan kembali hal-hal yang membuat saya dapat berada di posisi sekarang ini.

Ketika masih duduk di bangku SMA, belum terlintas di benak saya untuk mengambil jurusan di mana yang dipelajari adalah lingkup dunia media, sosial, dan politik, yang ada malah keinginan untuk memahami lebih dalam seputar ekonomi dan keuangan. Mungkin pola pikir ini terbentuk karena ayah dan ibu yang berkecimpung dalam dunia tersebut sehingga pembicaraan mengenai dunia ekonomi adalah sesuatu yang akrab terdengar di telinga saya. Pola pikir tersebut kemudian mengental menjadi tekad untuk mendalami studi di bidang tersebut.

Namun, ada suara kecil di pikiran ini yang mengatakan bahwa sebenarnya ketertarikan saya terletak pada kehidupan sosial di mana saya dapat bertemu dengan orang-orang baru atau berkreasi dalam tulisan. Dari dulu memang saya menyukai interaksi dengan orang lain, dapat mengenal orang baru selalu menjadi hal yang menyenangkan dan menyedot perhatian lebih. Selain itu, walau kemampuan menulis saya belum begitu baik, saya ingin nantinya dapat menuangkan ide-ide dalam bentuk tulisan yang dapat menjadi konsumsi banyak orang. Tentu saja kedua hal diatas hanya dapat dipelajari lebih dalam di Jurusan Ilmu Komunikasi.

Seiring berjalannya waktu, saya mencari tahu berbagai hal mengenai dunia komunikasi maupun ekonomi. Tapi, semakin banyak narasumber, semakin banyak pula kebimbangan saya dalam memilih satu diantara dua pilihan tersebut. Selalu saja ada perdebatan mengenai mana yang lebih tepat untuk dipilih. Dari sekian banyak sumber yang memberi masukan, pada intinya hanya ada satu nasihat yang selalu sama: pilihlah jurusan yang sesuai dengan kata hati. Ya, jurusan yang sesuai dengan passion, tempat di mana kita nantinya memahami sesuatu yang memang menjadi ketertarikan kita. Kesimpulan ini seharusnya sudah menjelaskan mana yang harus saya pilih. Sayangnya, terkadang keputusan dari berbagai pihak yang berpengaruh dapat mengalahkan keinginan sebenarnya. Di bimbel yang saya ikuti, dorongan untuk masuk ke jurusan dengan standar tinggi sangatlah besar. Melihat nilai try out yang didapatkan pada saat itu, keoptimisan untuk masuk ke jurusan di bidang ekonomi juga sangat besar. Akhirnya diambil keputusan bahwa Manajemen berada di pilihan pertama dan Ilmu Komunikasi di pilihan kedua untuk SBMPTN yang saya jalani. Pilihan itu adalah keputusan bersama dari berbagai pihak yang ikut andil dalam menentukan studi saya kedepannya.

Setelah menjalani tes SBMPTN, rasa khawatir, gelisah, dan bingung kembali melanda. Ke mana jalan saya selanjutnya sangat bergantung pada hasil tes tersebut. Beberapa jam sebelum pengumuman SBMPTN, saya bertanya kepada ibu saya bagaimana jika nanti yang tertulis di pengumuman bukanlah pilihan pertama? Ibu saya menjawab, “Apapun hasilnya nanti, itu adalah yang terbaik.” Jawaban yang singkat namun menenangkan. Saat pengumuman pun tiba, saya membuka website resmi SBMPTN dengan kegugupan seolah jantung saya berdetak sepuluh kali lebih hebat dari biasanya. Dan di website tersebut tertulis dengan jelas “Diterima di: ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS GADJAH MADA”. Sebaris kalimat ini seolah menjawab semua kegundahan selama ini.

Walaupun masuk pada pilihan kedua, saya merasa bahwa ini adalah jalan yang benar-benar dipilihkan untuk dijalani nantinya. Saya bersyukur dapat masuk ke jurusan di mana yang dipelajari adalah sesuatu yang memang menjadi ketertarikan selama ini dan semoga nantinya saya dapat mencapai hasil terbaik dari apa yang saya pilih.